Archive for November 8th, 2005

08
Nov

SURAT UNTUK JAKARTA: “TERIMA KASIH BANYAK!”

Orang nggak selamanya benar. Kalian nggak selamanya benar. Nggak bijaksana untuk selalu balik menyalahkan orang lain setiap kali kesalahan kalian sendiri dibuka. Kalian nggak punya kekuasaan untuk menghindar dari kesalahan. Nggak ada yang bisa. Dan jangan pernah menganggap kalau kalian sudah tau segalanya tentang orang-orang yang dekat sama kalian. Kalian cuma tau sebatas yang bisa kalian lihat dan dengar, walau orang itu adalah pasangan hidup kalian sekalipun.
Singkatnya, kalian nggak tau apa-apa tentang gue. Dan jangan sok tau. Kalau kalian menuduh gue, jangan kira gue diam aja karena kalian benar. Gue diam karena gue nggak berhutang penjelasan apapun sama kalian. Kalaupun gue jelaskan, apa jaminannya kalian akan mengerti? Gue cuma omong-kosong kan, buat kalian? Selain itu, gue diam aja karena gue jahat; gue seneng denger kalian ngoceh panjang lebar tentang sesuatu yang kalian kira kalian tahu tentang gue, dan dalam prosesnya bikin kalian keliatan begitu tolol di mata gue…
Kita tambah sering saling menyalahkan. Kita sudah sering mengecewakan satu sama lain. Setiap kali kita diserang, kita akan menyerang balik. Dan itu nggak menghasilkan apa-apa kecuali sakit hati. Keadaan udah cukup buruk tanpa harus ditambah-tambah lagi. Kalian pikirin aja apapun yang kalian pingin pikirin tentang gue. Kalau memang gue salah, gue akan berusaha berubah. Gue akan berusaha berubah tanpa menggembar-gemborkan sama kalian, karena janji yang dibuat sama diri sendiri lebih ampuh dari pada yang dibuat sama orang lain.
Apakah kalian juga akan berubah kalau gue menyampaikan kesalahan kalian? Apa kalian akan merenungkannya, dan bukan malah menyerang gue balik dan bikin gue sakit hati? Kenapa kalian sering sekali begitu? Apa dengan menunjukkan kalau kita sama-sama punya salah, kalian merasa nggak perlu lagi ngeberesin kesalahan kalian sendiri?
Kalian adalah orang-orang yang picik.
Kalian nggak akan pernah bisa bayangin apa yang ada di dalam kepala gue. Kalian nggak akan pernah tau, gimana rasanya kenal dengan seseorang begitu lama, seperti kalian, sampai-sampai gue bisa membayangkan kalimat berikutnya yang bakal keluar dari mulut kalian. Gue kenal kalian begitu baiknya, gue bisa membayangkan bakal jadi orang-orang seperti apa kalian nantinya. Kalian nggak harus percaya. Gue tau selama ini kalian menganggap sepele hal-hal yang gue anggap penting. Gue tau selama ini kalian menganggap gue penuh omong-kosong. Tapi gue kasih tau aja, yang gue liat nggak bagus. Atau mungkin memang guenya aja yang memilih buat liat jeleknya. Nggak tau deh. Mungkin memang udah nggak ada yang baik lagi di dunia ini. Gue pribadi sih, sering ngerasa begitu.
Butuh keberanian besar atau masalah hidup dan mati untuk berubah. Gue nggak tau, kejadian apa yang bisa membuat kalian sampai pada situasi seperti itu. Keberanian macam apa yang bisa membuat kalian berubah. Siapa yang harus mati supaya kalian bisa sampai di titik itu. Tapi kalau kalian sudah benar-benar sampai di situ, gue berharap kalian nggak ngelewatin kesempatan itu. Kita bisa dapat semuanya, tapi juga bisa kehilangan semuanya. Terserah kita sendiri.
Memang, gue punya masalah. Gue kurang terbuka. Gue nggak membiarkan kalian memahami gue sebaik gue memahami kalian. Kalian menganggap gue nggak sensitif, nggak perhatian, seorang sahabat yang dingin dan tertutup. Gue seperti ini karena pilihan gue sendiri. Gue seperti ini karena dengan begini gue bisa berpikir lebih jernih. Sementara kalian menganggap gue menjaga jarak, bahkan nggak tau lagi siapa gue.
Gue duduk di sini dan tau secara pasti orang seperti apa kalian ini. Dan gue nggak pernah puas dengan apa yang gue dapat tentang kalian, karena sepertinya semua semakin jauh melenceng dari apa yang gue harapkan. Dari sekian waktu yang sudah kita lewatin sama-sama, susah dan senang; dari semua kejadian yang sudah kita alamin, baik dan buruk, gue sampai pada kesimpulan yang, kalau mau dibilang dengan sederhana, bikin gue pingin bunuh diri.
Gue dibesarkan lebih baik dari yang disangka orang tua gue sendiri. Gue nggak mau ngecewain mereka. Gue pingin ngelakuin hal yang benar. Benar karena memang benar dan bukan karena orang-orang bilang itu benar. Dan itu ternyata susah sekali, karena di sekeliling gue, orang paling baikpun ternyata sering menipu.
Sebagai catatan: A white lie is still a lie.
Tentu saja gue nyoba beradaptasi, karena sepertinya orang-orang yang enggak beradaptasi cuma bakalan mati kutu di kota terkutuk seperti ini. Gue nggak pernah berhenti buat menyesuaikan diri, dan dalam prosesnya nyari semacam pembenaran yang mungkin bisa ngejawab pertanyaan gue: kenapa harga diri sama kejujuran begitu murah nilainya di kota ini?
Ketulusan udah hilang dari hidup kita. Nggak ada lagi senyuman yang sekedar senyuman. Semua orang berstrategi. Semua orang bertaktik. Memeras otak untuk saling mendahului dan menjadi yang terdepan atau yang teratas. Because knowledge is power! Knowledge is power and power is money! Yeah! Kita bekerja keras menyikut menjegal menginjak-injak sepanjang hari disertai senyuman yang bukan sekedar senyuman dan di penghujung hari tepat sebelum menutup mata yang ada di benak kita adalah uang! Benar begitu?
Tapi, mau bagaimana juga semua kekotoran itu bikin gue merasa bersalah. Rasa bersalah bikin gue nggak bisa tidur. Yang parah, gue nggak bisa membaginya dengan siapa-siapa. Nggak ada yang ngerti. Kalau gue nyoba, gue bakalan kedengaran sangat naif dan bodoh. Di kota sebejat ini, gue mau curhat sama siapa tentang kebejatan kota ini?
Gue musti gimana lagi, lha wong orang yang paling dekat sama gue aja nggak pernah berhenti nyoba buat ngerubah gue buat jadi seseorang selain diri gue sendiri; seseorang yang nggak gue sukai, dan nggak akan pernah gue sukai. Itu bukan gue. Tapi mereka nggak mau ngerti. Kalian nggak mau ngerti. Kalian maunya cuma supaya gue jadi salah satu dari kalian…
Kita adalah orang-orang yang doyan makan orang. Memang cuma Tuhan yang sanggup nyiptain makhluk seperti manusia, makhluk yang bisa bener-bener jujur cuma sama diri sendiri. Hey, just face it: Orang jujur juga sering bohong kok. Polisi (our supposed servant and protector) juga korup dan gila hormat kok. Mahasiswa reformasi juga nantinya KKN kok. Orang yang rajin ibadah juga ada yang zinah kok. Bener. Just look around. And maybe, look at yourself.
Jakarta, maafin pemikiran gue yang skeptis dan pesimis. Tapi dalam sejuta tahun nggak akan gue ngerubah pendapat gue: Ini semua gara-gara lu juga kok, Jakarta.




 

November 2005
M T W T F S S
    Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930