Sekitar satu minggu yang lalu saya bermimpi. Bukan sebuah mimpi yang aneh, cuma tentang keseharian yang biasa-biasa saja. Saya sudah tidak ingat detail-detail di dalamnya, hilang begitu saja tepat ketika saya terbangun. Tapi setiap mimpi selalu meninggalkan kesan, dan kesan itulah yang masih tertinggal sampai sekarang.
Saya bermimpi semuanya baik-baik saja. Semua yang salah, semua yang seharusnya tidak terjadi, semua yang justru saya inginkan untuk terjadi, ada di dalam mimpi ini. Semuanya menjadi baik-baik saja. Di dalam mimpi itu saya merasa bahagia karena saya bisa membereskan semuanya, karena semuanya berakhir sesuai keinginan saya. Saya mendapatkan semua yang saya inginkan.
Waktu saya akhirnya terbangun, kesan itu tertinggal dan menguap ketika saya sadar kalau ini cuma mimpi.
Minggu-minggu terakhir ini sangat berat untuk saya. Kejadian demi kejadian membebani batin saya sampai saya sempat gila dibuatnya. Ketika itu terjadi, saya membuat satu keputusan yang kurang bijaksana, dan keadaanpun berubah menjadi semakin buruk.
Sekarang mungkin semuanya tampak seolah kembali ke keadaan semula. Saya ingin semuanya kembali seperti semula supaya kali ini saya bisa mengambil keputusan yang lebih baik. Tapi tentu saja itu semua cuma ilusi. Keadaan tidak akan pernah sama lagi, dan semua kesempatan yang telah saya lewatkan tidak akan saya dapatkan kembali.
Saya tidak akan pernah bisa memahami kenapa saya mengalami semua ini. Tapi saya menerimanya. Saya harus menerimanya karena saya tidak mampu berbuat apa-apa untuk merubahnya. Maksud saya, saya bisa merubahnya, tapi saya tidak akan melakukannya. Tidak sekarang.
Saya sudah siap merubahnya. Selalu siap. Tapi dalam hal ini, keteguhan hati saja tidaklah cukup. Apakah kamu tahu, apa yang saya bicarakan? Apakah kamu seperti saya? Apakah dalam hal ini saya sendirian?
Tentu tidak. Saya tidak sendirian. Banyak yang mengalami apa yang saya alami. Tapi lucunya, kami semua yakin kalau kami sendirian. So… it can’t hurt for you to be a bit nicer. We’d appreciate it…
Recent Comments