Archive for May, 2007

26
May

BAIK-BAIK SAJA

Sekitar satu minggu yang lalu saya bermimpi. Bukan sebuah mimpi yang aneh, cuma tentang keseharian yang biasa-biasa saja. Saya sudah tidak ingat detail-detail di dalamnya, hilang begitu saja tepat ketika saya terbangun. Tapi setiap mimpi selalu meninggalkan kesan, dan kesan itulah yang masih tertinggal sampai sekarang.

Saya bermimpi semuanya baik-baik saja. Semua yang salah, semua yang seharusnya tidak terjadi, semua yang justru saya inginkan untuk terjadi, ada di dalam mimpi ini. Semuanya menjadi baik-baik saja. Di dalam mimpi itu saya merasa bahagia karena saya bisa membereskan semuanya, karena semuanya berakhir sesuai keinginan saya. Saya mendapatkan semua yang saya inginkan.

Waktu saya akhirnya terbangun, kesan itu tertinggal dan menguap ketika saya sadar kalau ini cuma mimpi.

Minggu-minggu terakhir ini sangat berat untuk saya. Kejadian demi kejadian membebani batin saya sampai saya sempat gila dibuatnya. Ketika itu terjadi, saya membuat satu keputusan yang kurang bijaksana, dan keadaanpun berubah menjadi semakin buruk.

Sekarang mungkin semuanya tampak seolah kembali ke keadaan semula. Saya ingin semuanya kembali seperti semula supaya kali ini saya bisa mengambil keputusan yang lebih baik. Tapi tentu saja itu semua cuma ilusi. Keadaan tidak akan pernah sama lagi, dan semua kesempatan yang telah saya lewatkan tidak akan saya dapatkan kembali.

Saya tidak akan pernah bisa memahami kenapa saya mengalami semua ini. Tapi saya menerimanya. Saya harus menerimanya karena saya tidak mampu berbuat apa-apa untuk merubahnya. Maksud saya, saya bisa merubahnya, tapi saya tidak akan melakukannya. Tidak sekarang.

Saya sudah siap merubahnya. Selalu siap. Tapi dalam hal ini, keteguhan hati saja tidaklah cukup. Apakah kamu tahu, apa yang saya bicarakan? Apakah kamu seperti saya? Apakah dalam hal ini saya sendirian?

Tentu tidak. Saya tidak sendirian. Banyak yang mengalami apa yang saya alami. Tapi lucunya, kami semua yakin kalau kami sendirian. So… it can’t hurt for you to be a bit nicer. We’d appreciate it…

21
May

SALT and PEPPER

This here is the story of a man at a diner, swaying through the minutes accompanied only by his thoughts. His meal had long since emptied, and now laid neglected by his side, crumbs and all.

The waitress thought he was a mere calm drunk. Drunks came in all sizes and attitudes, she’s learned. This one is a calm one, silently swimming in his own soul, searching and searching before finally, at the edge of discovery, everything got jumbled up and he’d throw it all out of him and got wasted. A drinker was never much of an anything, she thought. She’d know since she’s married to a goddamn drunk.

So, dispatching what little sincerity she had left, the waitress sat in front of the man and asked him if he would want anything else.

“I want answers,” he said.

“To what?” The waitress asked.

The man sighed as if he’d expected the waitress to have already known the answer. At first he opened his mouth to an empty sentence, it seemed he was having trouble explaining the question. Finally after some amount of thinking, he took the salt and pepper shakers and showed them to the waitress.

First he put the pepper shaker on the table. “Some girls,” he said, “want a guy who can give her everything.” Then he put the salt shaker on the table, just a tad farther from the pepper shaker. “Some guys want a girl he can give everything to.”

“I can agree to that,” the waitress said. “What then?”

On the table there was a small diner menu displayed in an acrylic stand. The man took it and put the menu between the shakers. “And then life happens,” he said, looking miserable. Somehow the drop of the menu and the words had made the waitress felt miserable too.

“Life happens, my dear stranger. Life is like a wall with two sides…” He spinned the menu on the table. “One side is happiness, and the other is utter misery. They kept spinning around because life is… supposedly… fair. Life shatters you and life… connects you.”

The man slid the shakers closer to the spinning menu. “You have to be strong enough to be able to connect. You connect by holding one end of the wall and hope that he’s holding the other end with you. If you’re not strong enough, you are shattered.” He put the shakers close to the menu, spin the menu one last time so that the shakers spilled and made a mess on the table.

“I still don’t see what the question is.”

“What can really connects you? What really connects two people?”

The waitress thought about it and, instead of offering an answer, came up with a question. “Do you love her?”

The man, half surprised, half expecting, answered, “I don’t know. But I do know that, taking away all the passion and all the things I like about her, I found that I still care for her.”

“Will you be dissapointed if I told you that what connects people is two-fold, like life itself?”

“Really?”

“Really, honey. It’s Love. And Money.”

The man, once more, was half surprised, half expecting.

“You have Love. Do you have the other one?”

The man took some money and paid the waitress. “Thank you for the meal,” he said, and walked out of the diner into the cold evening. The waitress watched him dissapear into the dark, thinking if there was a better answer. If there ever will be. People kept coming in and out of her life at the diner. Two things made the world go round, she thought. No more and no less.

She took out a napkin and started on cleaning the salt and pepper on the table. It was going to be a long night and her shift just started when The Man with The Question entered her diner some forty minutes ago. She had kids to feed and her Love wasn’t enough.

16
May

ASAL MULA CINTA

Pada zaman dahulu, sebelum dunia diciptakan dan manusia mendaratkan kakinya ke muka bumi untuk pertama kalinya, Kejahatan mengapung dan merasa bosan karena tidak tahu harus mengerjakan apa. suatu hari, semua kejahatan dan kebajikan berkumpul dan semakin bosan. Tiba-tiba Kreatifitas muncul dengan gagasan baru: “Ayo kita main petak umpet!”

Mereka semua setuju dengan usul itu dan Kegilaan berteriak, “Aku yang menghitung, aku yang menghitung!” dan karena tak seorangpun ingin mencari Kegilaan, mereka sepakat. Kegilaan bersandar ke pohon dan mulai berhitung. “Satu, dua, tiga…”

Ketika Kegilaan menghitung, kejahatan dan kebajikan bersembunyi. Kellembutan menggantung di bulan… Pengkhianatan bersembunyi di dalam sampah… Keberanian bersembunyi di puncak gunung… dan Nafsu pergi ke pusat bumi… Kebohongan berkata bahwa dia akan bersembunyi di balik batu, padahal dia bersembunyi di dasar danau… sementara Ketamakan masuk ke karung. Dan kegilaan terus menghitung. “Tujuh puluh sembilan, delapan puluh, delapan puluh satu…”

Semua kejahatan dan kebajikan sudah bersembunyi, kecuali Cinta. Karena tidak pernah benar-benar mengerti arti keberadaannya, Cinta tidak tahu harus bersembunyi di mana. Dan ini tidak mengejutkan kita, karena kita semua tahu betapa sulitnya menyembunyikan Cinta. Kegilaan terus berhitung, “Sembilan puluh lima, sembilan puluh enam…” Tepat ketika Kegilaan menghitung sampai seratus, Cinta melompat ke semak-semak bunga mawar dan bersembunyi di sana.

Kegilaan berkeliling untuk mencari dan berteriak, “Aku datang! Aku datang!” Pertama-tama dia menemukan Kemalasan karena Kemalasan tidak punya energi untuk bersembunyi. Kemudian dia melihat Kelembutan di atas bulan, Kebohongan di dasar danau dan Nafsu di pusat bumi. Satu demi satu Kegilaan berhasil menemukan mereka… kecuali Cinta. Kegilaan menjadi frustasi karena tidak bisa menemukan Cinta. Kecemburuan berbisik pada Kegilaan, “Kamu bisa menemukan Cinta di semak-semak mawar itu!”

Kegilaan mengambil serok kebun dan memukul-mukulkannya dengan liar ke semak-semak mawar. Kegilaan terus saja memukulkannya sampai teriakan keras menghentikannya. Cinta muncul dari semak mawar, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Di antara jemarinya mengalir darah dan air mata. Kegilaan, karena begitu cemas ingin menemukan Cinta, telah memukulkan serok itu ke mata Cinta.

“Apa yang telah kulakukan? Apa yang telah kulakukan?” teriak Kegilaan. “Aku telah membuatmu buta. Bagaimana caranya aku bisa menyembuhkanmu?”

Cinta-pun menjawab, “Kamu tidak bisa menyembuhkan kedua mataku. Tetapi jika kamu ingin melakukan sesuatu untukku, kamu bisa menjadi pemanduku.”

Sejak saat itu, Cinta itu buta dan selalu ditemani oleh Kegilaan.
(sumber: internet)

13
May

LAHIRNYA ANAK LAKI-LAKI YANG BIASA SAJA

Hidup saya dimulai ketika saya berumur empat tahun, di sore hari yang cerah dan sejuk. Kakak perempuan saya yang tertua, Mbak Tutut, menemani saya yang meluncur dengan sepeda roda tiga di jalanan kompleks depan rumah kami di Manado. Saya terlalu bersemangat dan jatuh ke got depan rumah. Badan saya kotor semua. Dan saya menangis.

Itu adalah ingatan pertama saya. Hidup saya dimulai saat itu.

Papah saya bernama R. Soejakto, S.H. Beliau setia bekerja di Pertamina selama 25 tahun dan pensiun pada umur 55 di tahun 1993. Dengan jabatan lumayan di bagian personalia Pertamina, pekerjaan Papah membuatnya harus berpindah tugas ke kota-kota lain di Indonesia. Tentu saja beliau selalu membawa serta keluarganya. Sejak saya lahir, saya sudah merasakan tinggal di kota di empat kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Manado, Jaya Pura, Medan, dan akhirnya kembali ke Jakarta.

Saya dilahirkan di Jakarta; anak terakhir dari enam bersaudara hasil pernikahan Papah dan Mamah yang bernama Marsiwidijati. Waktu itu, keluarga kami tinggal di Jalan Paus, di sebuah rumah dinas sederhana di daerah Rawamangun. Tadinya, waktu ditugaskan di Palembang, Papah-Mamah sudah merasa cukup dengan empat orang anak. Tapi begitu Mbak Tanti, kakak nomor empat, menginjak usia empat tahun, mereka berpikir untuk memiliki satu anak laki-laki lagi. Ternyata Tuhan menghendaki lain. Pun pada tahun 1977, Mbak Titis dilahirkan di Semarang. Papah-Mamah sekarang punya dua orang anak laki-laki dan tiga orang perempuan. Mereka memutuskan untuk menggenapkan jumlahnya menjadi tiga pasang laki-laki dan tiga pasang perempuan, dan mencoba lagi untuk terakhir kalinya.

2 Juni 1979. Tengah malam di Jakarta, lahirlah saya.

Beberapa kesalahan terjadi waktu saya baru dilahirkan. Setelah Papah-Mamah menceritakannya, saya sering merasa geli sendiri. Yang pertama-tama, saya sebenarnya lahir di tanggal 3 Juni sekitar jam satu dinihari. Kedua, nama depan saya tidak pakai ‘H’ dan ditambahkan gelar Raden. Kata Mamah, ini semua ulah seorang suster yang sok tahu di Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ) Rawamangun. Dia tidak bisa mengeja ‘Thomas’. Dia tidak bisa baca jam. Dan yang paling parah, dia kira karena Papah memakai gelar ‘Raden’, saya juga harus dipasangkan dengan gelar itu.

Kalau dulu itu urusannya beres semua, saya seharusnya menjadi Thomas Widiyoko Haribowo, anak laki-laki yang lahir pada tanggal 3 Juni 1979.

Saya bayi bongsor yang lemah. Mendekati usia setengah tahun, saya belum bisa mengangkat kepala saya sendiri. Di sebuah foto lama, saya tampak terpekur dengan posisi aneh di pelukan Mamah. Kedua tangan dan kaki saya masih tertekuk ke dalam seperti janin yang masih dikandung. Semakin dewasa saya berkesimpulan kalau pertumbuhan biologis dan emosional saya memang sedikit terlambat. Mungkin suatu saat nanti akan saya ceritakan sebabnya. Untuk sekarang, segini dulu…

09
May

HAPPINESS

For the last few months things have changed. I can feel it and I am so sure of it. I know you can feel it too. You can deny it for the sake of not wanting to agree with me, or because you have absolutely no idea what I’m talking about, or for any other reasons true or untrue, but if you know me, I know you can feel it too.

I don’t have much in this life. Never did. And I’m not just talking about money. I don’t have much friends. I don’t have much dignity. I don’t have much respect. I don’t have much to go on with so I can be happy. Sometimes I feel like I will never have more than enough.

They say you can’t buy happiness. They say the best things in life are free. I totally agree. To me, happiness is something somebody should earn. Happiness is earned by buying things to get to that point where we’re happy. The best things in life are free, yes, but getting to those best things is a long and expensive journey. And once again, I’m not just talking about money. I may be shallow but even in shallow waters there’s still water.

Something in a movie taught me that life can basically be described in two ways: a life of happiness and a life of meaning.

Having a life of happiness means that you have to live everything absolutely in the present. Meanwhile pursuing a life of meaning means you wallow in the past and obsess about the future. I used to think that I’m living a life of meaning, or, at least, pursuing a life of meaning. Then I thought about it some more and, quite expecting what I had found, is that there were some moments in my life when I was truly happy. I can’t describe them in other ways but as ‘moments’, which means that there can’t be a life of happiness because you can’t be happy all the time. You’re living on a spinning wheel, after all.

These moments of happiness, they were platonic, they were unexpected, quick as fireworks, and then they were gone, but the aftertaste was more than enough to keep you wanting more. Is that what keeps us alive? Is happiness just another form of addiction?

I guess it is, because the way I look at it, happiness is first and foremost rare, varying in quality and effects, short-lived, and of course, addictive. People are willing to let go of many important things to find it. They sacrificed for it.

Was it worth it, in the end?

Yes it was worth it, because happiness isn’t just an illusion. It’s real. It’s there. I’ve seen it. I had a taste of it and I did want more of it. I was happy. And then happiness wants more from me until finally my world protects that happiness from me, slowly finding ways to get rid of me. It seems my own world starts to think that happiness is better-suited for somebody else. Somebody other than me.

Now maybe one of the reasons I’m writing all this down is because I’m fighting for my life to get it back, but deep down in my heart I have always known that happiness will always be out of my league, even if, by some kind of miracle, I managed to get it in the end.

So, like I said, I never have much. So what little I have in this life I guard it with the rest of what I still have. So when changes like the one that’s been going on now is coming, I had no choice but to guard myself so that if it ever comes out badly, I won’t be hurt as much as if I had fought for it and failed. Again: I don’t have much, I don’t want to lose what little I have, so I never did anything…

Does that make me a quitter and a coward? Well nobody’s perfect. In my defense, at least I’m good at being a quitter and a coward…